Tujuan dalam Kehidupan

 




Kisah Seorang Astronot yang Dikirim ke Bulan

Menurut Anda mengapa Buzz Aldrin dan Neil Armstrong dikirim ke bulan pada tahun 1969? Tidak lain adalah untuk menjalankan sebuah misi, ekspedisi ke bulan dan menandakan sebuah era baru di mana manusia mampu untuk bisa menjejakkan kakinya di luar angkasa.

Terlepas dari benar atau tidaknya penjelajahan manusia di bulan, namun seorang astronot yang bertugas tidak dikirim secara sembarangan namun melalui serangkaian seleksi yang sangat ketat agar layak dikirim ke bulan. Sesampainya di bulan dan selesai menjalankan misi, astronot siap kembali lagi ke bumi untuk melaporkan misi yang telah dijalankannya tersebut. Sebagai contoh, astronot diberikan misi untuk membawa contoh batuan bulan untuk diteliti di bumi. Setelah batuan selesai diambil, mereka pun pulang kembali ke bumi.

Bayangkan seandainya tidak ada arahan jelas terkait misi untuk para astronot yang dikirim ke bulan, kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Tentu saja mereka bebas melakukan apapun yang mereka mau, bahkan tidak membawa apapun dari ekspedisi ke bulan yang bernilai milyaran dolar karena mereka tidak mengemban misi saat dikirim ke bulan!

Sudah tergambar? Ya! Persis sama dengan hidup kita. Kita dikirim melalui serangkaian seleksi ketat yang harus ditempuh sejak awal pembentukan diri kita di rahim sang ibu. Dari jutaan bahkan puluhan juta sel sperma yang berkompetisi, hanya dipilih satu sel saja yang dilahirkan sebagai manusia. Itu semua adalah KITA!

Lalu, apakah manusia hanya diciptakan begitu saja tanpa adanya sebuah tujuan? Pasti ada tujuan di balik itu semua.

(Dikutip dari buku Simply Productive karya Arry Rahmawan)

 

Definisi Tujuan

·       Tujuan dalam KBBI = 1 arah; haluan (jurusan); yang dituju; maksud (tuntutan) yang dituntut.

·       Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai.

 

Apa Tujuan Hidup Kita?

Perlu diketahui bahwa setiap manusia –ingat ya, setiap manusia, bukan hanya muslim—ketika terlahir ke muka bumi, seyogyanya mesti memahami tujuan hidupnya. Apalagi orang Islam yang ketika terlahir –memang—sudah diembankan dengan yang namanya tujuan kehidupan, yaitu sebenarnya kehidupan kita itu untuk apa, mau dibawa kemana dan apa yang mau dicapai. Nah, untuk itulah, jauh-jauh hari Allah telah mengarahkan tujuan hidup kita di dalam al-Qur’an.

 

1.   QS.  surat adz-Dzariyat: 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْن

Artinya:                       

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia itu, kecuali semua mereka menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai ibadah kepada-Ku.”

Perhatikan cara menerjemahkannya.

Jadi, Allah telah memberikan petunjuk kepada kita, bahwa tujuan hidup kita tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadikan seluruh aktivitas kita sebagai “ibadah”. Jin saja beribadah, tapi biarkan saja jin beribadah di alamnya. Awas, Jangan coba-coba usik apalagi diusili. Biarkan saja. Adapun kita juga beribadah sebagaimana manusia. Jangan ganggu jin. Biarkan jin dan manusia dengan alamnya masing-masing.

Arti Ibadah

Lalu, apakah yang dimaksud dengan ibadah itu hanya sebatas sholat lima waktu, baca al-Qur’an, puasa, zakat haji/umroh. Hanya itu saja? Tentu saja tidak.

Mari kita perhatikan, definisi ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup semua yang Allah cintai dan Allah ridhoi, baik ucapan maupun perbuatan, yang lahir (tampak, bisa dilihat) maupuun yang batin (tidak tampak, tidak bisa dilihat).”

Para ulama menjelaskan, secara garis besar, ibadah dibagi menjadi dua macam: Ibadah mahdhah dan ghoiru mahdhoh. Contoh ibadah mahdhoh: Sholat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya yang memang sudah Allah tetapkan cara pelaksanaannya, ada dalilnya dan dalamn rangka meraih pahala akhirat.

Sedangkan ibadah ghoiru mahdhoh apa contohnya?

Kita ambil contoh yang sederhana saja. Aktivitas makan misalnya. Makan, pada asalnya bukanlah ibadah khusus. Orang bebas kapan mau makan, baik ketika lapar maupun tidak lapar, dengan menu apa saja yang penting halalan thoyyiban, halal dan baik. Bisa jadi, orang makan karena lapar, atau hanya sekedar ingin mencicipi makanan. Akan tetapi, ketika aktivitas makan bisa berpahala ketika pelakunya meniatkan agar memiliki kekuatan (tidak lemas) untuk sholat atau berjalan menuju sekolah, atau supaya semangat ketika belajar di kelas. Dalam konteks ini, aktivitas makan sudah bisa dikategorikan sebagai ibadah.

Kalau diperhatikan, Islam mewajibkan penganutnya untuk melakukan ibadah –yang mahdhoh, ya- dalam bentuk dan jumlah yang sangat terbatas. Keterbatasan ini dapat dilihat dari beberapa ibadah yang diperintahkan; shalat lima kali dalam sehari, puasa sebulan dalam setahun, dan  haji sekali dalam seumur hidup. Adapun selebihnya Allah SWT mempersilakan manusia untuk berkarya, bekerja dan mencari rezeki di muka bumi.

 

 

Dari penjelasan tadi, dapat disimpulkan bahwa wilayah ibadah memiliki cakupan yang sangat luas, meliputi seluruh aktivitas keseharian manusia. Sungguh, sangat sempit pemikiran sebagian kalangan yang menganggap bahwa ibadah hanya sekedar sholat, puasa, zakat, dan haji. Bukankah syari’at Islam tidak hanya berbicara tentang halal, haram, sunnah dan makruh? Masih ada perkara mubah yang dapat bernilai ibadah jika di dalamnya terdapat niat dan maksud yang baik.

 

Contoh sederhana lainnya, ulama salaf memiliki kebiasaan untuk tidur di awal malam. Mereka bangun cepat untuk melaksanakan sholat malam dan mengharapkan pahala dari tidurnya sebagaimana mengharapkan pahala dari sholat malamnya. Kebiasaan mereka dapat dijadikan contoh bahwa ‘tidur’ pun dapat bernilai ibadah, jika sebelumnya telah diniatkan. Hal ini juga berlaku pada aktivitas keseharian lainnya.

 

Pemahaman di atas akan menjadikan seorang muslim dapat menghadapi kehidupan secara profesional, karena semua yang ia lakukan adalah ibadah kepada Allah SWT. Namun, pemahaman tersebut perlu didasari atas komitmen bahwa pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan syari’at Islam dan memiliki niat yang benar, tekun (profesional) dan ihsan, senantiasa menjaga aturan-aturan yang Allah SWT tentukan, dan pekerjaan tersebut tidak menghalangi dirinya untuk taat beragama. (Lihat Ali Muhammad Ash-Shalabi, Fikih Kemenangan & Kejayaan: >245)

 

 

2.   QS. Al-Baqoroh [2]: 30

وَإِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيْفَة

Artinya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.

Makna Khalifah

1.   Pengganti

Karenanya para khulafa’ al-Rasidin selain menggantikan kedudukan Rasulullah Saw sebagai pemimpin, mereka juga melanjutkan risalah beliau, bahkan siap dan rela menyerahkan kepemimpinan itu kepada generasi selanjutnya..

2.   Imam (pemimpin yang berada di depan)

3.   Amir (pemimpin yang dapat memerintah)

=> konteks pemerintahan negara.

Lalu dimana posisi kita, jika menilik kembali maksud Allah hendak menjadikan kholifah di muka bumi? Di poin kedua. Menurut Ibnul Qoyyim, khalifah diartikan sebagai imam atau pemimpin yang berada di depan.

… waj ‘alnaa lil muttaqiina iimaamaa jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang ber-takwa.  (QS. al-Furqan [25]: 74).

Karena seorang pemimpin berada dalam posisi imam, maka dari itu haruslah siap berada di depan atau di belakang bersama orang-orang yang bertakwa, dan bahkan ia harus siap untuk menjadi imam maupun makmum dalam salat dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya (Ibnul Qoyyim).

Seperti yang tercantum dalam konsep kepemimpinan perspektif Ki Hajar Dewantara yang sangat poluler di kalangan masyarakat:

·       Ing Ngarso Sun Tulodo yang berarti menjadi seorang pemimpin harus mampu berada di depan sebagai suri tauladan bagi bawahannya.

·       Ing Madyo Mbangun Karso yang berarti seorang pemimpin harus mampu menjadi penengah sebagai pendorong dan penyemangat.

·       Tut Wuri Handayani yang berarti bahwa seorang pemimpin harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

Kak, saya di kelas cuma jadi siswa siswa biasa kak. Datang ke sekolah, belajar, ngobrol ngalor-ngidul sama temen, belajar lagi, pulang, makan, tidur, besok sekolah lagi, apa saya juga termasuk pemimpin, kak?

Lah, iya dong. Kan masih spesies manusia, kan? dan bukankah Allah menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin?

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَّسْئُوْلٌ

Artinya:

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. (HR. Bukhari/4789)

Setiap orang adalah pemimpin dengan tanggung jawabnya masing-masing. Seorang siswa dengan tanggung jawabnya untuk belajar, mendapatkan nilai yang bagus, menghormati guru, menghargai teman, berbakti pada orang tua, menjaga nama baik sekolah, bahkan kalau bisa mengharumkan nama sekolah baik ketika masih berstatus sebagai siswa maupun setelah menjadi alumni. 

Sebagai apa?

Sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada guru-guru yang sudah mendidik dan mengajarkan kita berbagai ilmu pengetahuan sekaligus agar apa yang sudah diajarkan dapat bernilai sebagai ilmu yang bermanfaat sekaligus membawa keberkahan baik diri sendiri, keluarga, almameter yang ditinggalkan, lingkungan sekitar dan siapa saja.

Setiap siswa juga akan mempetanggungjawabkan amal perbuatannya masing-masing, baik ketika di dunia maupun ketika di akhirat nanti. Selagi, tidak termasuk ke dalam 3 golongan pengecualian (belum baligh, sedang tidur, orang gila), maka setiap kita akan mempertanggungjawabkan amalan-amalan kita.

So, silahkan dipilih mau mempertanggungjawabkan di dunia atau mempertanggungjawabkan di akhirat. Yang jelas, apapun pilihan kita, pertanggungjawaban di akhirat tidak akan terelakkan bahkan tanpa bisa memanipulasi –perbuatan kita—sedikit pun.

 

Implikasi Mengenal Tujuan dalam Kehidupan

Setelah kita tahu bahwa tujuan kehidupan seorang manusia –yaitu, untuk beribadah kepada Allah dan menjadi pemimpin— maka implikasi atau dampaknya adalah kita akan menentukan langkah seperti apa yang harus dilakukan. Supaya apa? Supaya tujuan kita tercapai.

Anggap saja, untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, kita merumuskan mission statement, pernyataan misi.

Saya tertarik dengan mission statement yang dikemukakan oleh Pak Arry Rahmawan, beliau seorang trainer di Cerdas Mulia Institut, peneliti sekaligus mahasiswa Ph.D di Delf University of Technology Belanda dan dosen di Universitas Indonesia. Ia memiliki mission statement begini:

 

“Menjadi manusia yang unggul dalam

kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual

di mana dengan keunggulan tersebut

mampu memuliakan Tuhan dengan jalan

menebar manfaat dan rahmat bagi seluruh alam.”

(Arry Rahmawan)

 

Dalam buku Simply Productive, ia menjelaskan:

 

“Sederhana, bukan? Jadi saya memiliki misi yang sangat sederhana sekali di dunia ini. Saya diperintahkan untuk memperoleh keunggulan dalam aspek spiritual, emosional, dan intelektual di mana dengan keunggulan itu saya bisa menebar manfaat sebanyak-banyaknya untuk memuliakan dan mengabdi kepada Tuhan. Kecerdasan yang kita miliki tanpa kemuliaan akan terasa hampa, sementara kemuliaan tanpa kecerdasan akan terasa kering. Maka dari itu saya harus menjadi pribadi yang tidak hanya sukses, tetapi juga cerdas dan mulia.

Saya merasakan betul manfaat yang didapatkan saat kita “sadar‟ apa sesungguhnya misi kita di dunia. Misi inilah yang kemudian mendorong saya untuk terus menciptakan karya dan memanfaatkan waktu sebaik – baiknya.” (Arry Rahmawan)

Maka, implikasi dari mengenal tujuan dalam kehidupan adalah sudah seharusnya menjadikan diri kita sebagai pribadi yang produktif, memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk melakukan hal-hal bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

So, saudara-saudaraku,

Kenali Dirimu & Temukan

How a Wonderful You.

 

Referensi:

Ali Muhammad Ash-Shalabi. 2006. Fikih Kemenangan & Kejayaan. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar

Arry Rahmawan. Tt. Simply Productive: Never Waste Your Life. -: Cerdas Mulia Publishing

Nabila El Chirri. 2014. Sosok Pemimpin yang Dirindukan (Telaah Kritis Terhadap Pemimpin Legislatif 2014). Makalah Terbaik I MMQ Nasional di Batam, Kep. Riau.

Komentar

Postingan Populer