Labbaik
Suatu hari, di sebuah grup WhatsApp keluarga sedang membahas tentang siapa yang akan menemani seorang wanita usia 60 tahun untuk berangkat memenuhi panggilan ke tanah suci, karena sang suami telah terlebih dahulu menghadap robbul izzati. Hampir seluruh peserta grup menunjuk abang tertua. Lalu, si Abang menjawab:
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin [36]: 82)
Aku sebagai salah satu anggota di dalam grup tersebut merenung, ‘Oh Allah, mungkinkah jika itu aku?’
Aku yang ketika itu duduk di bangku semester VII yang sedang menjalani masa-masa Program Pengalaman Lapangan (PPL) di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri dan masih mengandalkan beasiswa sebagai penopang terbesar dalam melaksanakan studi sebagai mahasiswa strata 1 (S-1) serta berusaha untuk tidak sama sekali menyusahkan orang tua dan/atau keluarga dengan menjadi salah satu pendidik di sebuah lembaga kampus, sekaligus memaksimalkan diri dalam mengikuti event bergengsi tingkat provinsi (baca: Musabaqah Tilawatil Quran/MTQ).
Ya, tulisan ini adalah salah satu kisah yang membuktikan bahwa ketidakmungkinan adalah sesuatu yang memungkinkan apabila Allah telah menetapkannya. Tiada sedikit pun niat untuk riya’, apalagi jika mengingat bahwa muatan perjalanan ini sebagian besarnya adalah ibadah mahdhoh yang pahalanya rentan ‘hilang’ ketika ditunjukkan.
Namun, dengan menulis ini aku berharap dapat menginspirasi, khususnya mereka yang pernah terbersit dalam tanya ‘gimana ceritanya anak seorang tani karet desa berangkat umroh bareng mamaknya ?’. Dan juga mereka yang pernah tersebut dalam do’a: ‘Oh Allah, tolong undang aku ke rumah-Mu!”
Singkat cerita, masa-masa PPL di sekolah berbasis full day yang kuselingi dengan menjalankan rutinitas asrama mahasiswa pada malam hari, pulang-balik keluar kota untuk mengikuti pemusatan pelatihan (training Center) menulis makalah di tiap 3 hari akhir pekan yang dilanjutkan dengan mengikuti MTQ dan diteruskan dengan penyelesaian tugas-tugas akhir PPL pun usai. Aktivitas romusha yang kurasakan selama 3 bulan itu benar-benar tidak membuatku berpikir untuk menemukan cara konkret menjadi ‘the one who will accompany my Mom to do Sacred Travels,’ kecuali:
Merutinkan membaca halaman pertama Quran juz 4 pada setiap sholatku; menempel gambar ka’bah di mading belajarku dan membaca sholawat serta berdo’a setiap kali melihatnya.
Pada halaman pertama juz 4 tersebut tertulis firman Allah, “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (QS. Ali Imron [3]: 97)
Perjalanan ke tanah suci bukan lah field trip biasa. Ianya merupakan ibadah yang diperuntukkan hanya bagi mereka yang ‘mampu’. Definisi mampu di sini menurut para mufassir adalah memiliki fisik yang sehat dan kendaraan yang dapat mengantarkannya ke Baitullah; memiliki bekal yang cukup; tidak meninggalkan orang-orang yang menjadi tanggungannya dalam keadaan kesusahan; dan perjalanan yang dilalui tidak membahayakan. Di sini sama sekali tidak disebutkan bahwa orang yang mampu adalah mereka yang kaya secara harta.
Bukankah banyak orang yang mampu tetapi tidak sempat; ada yang sempat tetapi tidak mampu; ada yang sempat dan mampu tetapi tidak sehat; ada juga yang mampu, sempat dan sehat tetapi harus menunggu lama; namun ada pula yang mampu, sempat dan sehat, tetapi tidak tergerak untuk berangkat. Maka, tidak salah jika dalam ‘manasik umroh’ yang ku ikuti terpampang jelas kalimat,
“Allah tidak memanggil orang yang mampu, tapi Allah memampukan orang yang terpanggil.”
Namun, di antara banyak tanda ke-MahaKuasaan-Nya, Allah tak luput untuk menunjukkan alasan logis kenapa sesuatu hal bisa terjadi. Dalam hal ini, aku pun demikian. Sejak kelas VII SMP, aku dibiasakan untuk menabung sebagian besar uang hadiah jika aku menang lomba dan menyisihkan separuh dari uang beasiswa kuliahku serta tidak mengotak-atiknya untuk memenuhi keinginan ala perempuan milenia.
Dalam perjalanannya aku juga berusaha menerapkan prinsip, ‘biarlah sederhana, tapi menjadi salah satu yang mengulurkan tangan ketika ada yang membutuhkan bantuan.’
Walaupun ketika itu niat menabung adalah untuk ‘membeli’ sepeda motor dan sebagai bekal mencari beasiswa S-2, namun ketika ada tawaran:
“Tabunganmu kalau dipake untuk nemani mamak umroh, mau nggak? Kekurangannya biar kami yang tambahkan. Coba istikhoroh!”
Dalam suasana rasa tidak percaya, aku memohon dikuatkan hati untuk ‘mengiyakan’. Walau sempat terpikir bagaimana dengan rencana S-2 ku? Tapi, aku percaya: pasti ada jalannya. Dengan bismillah, aku berangkat ke tanah suci pada 19 Februari – 2 Maret 2019 dalam rangka menemani mamak.
Maka, di sini aku juga membuktikan bahwa ‘The miracle is the other name for a hardwork ’ (dalam drama To the Beautiful You).


Komentar
Posting Komentar